Oleh-Oleh Kultum Tarawih
September 16, 2008Ingat masa kecil dulu, setiap bulan Ramadhan selalu saja dapat tugas dari sekolah untuk mencatat isi kultum tarawih dan kultum shubuh. Buku kegiatan bulan Ramadhannya pun sudah disediakan dari sekolah, murid-murid tinggal beli jadi nggak perlu buat buku sendiri. Kadang kita nggak ngerti apa yang disampaikan pengisi kultum (kultumer), maklum masih lugu-lugunya. Yang penting catatan penuh, nggak tahu isinya apa. Nah setelah shalat tarawih/kultum shubuh selesai, langsung rame-rame minta tanda tangan kultumer, habis itu tanda tangannya dicap stempel Masjid. Hehehe… itu dulu,, sekarang setelah dewasa (ehm..) untungnya universitas nggak mewajibkan mahasiswa ngumpulin ringkasan kultum di Masjid sekitar tempat tinggal mahasiswa. Kalau diwajibkan begitu nggak bisa dibayangin deh kayak apa jadinya. Otak mahasiwa kan sudah beda dengan anak sekolahan dulu, sekarang nggak nyatat juga nggak apa-apa yang penting ngerti apa yang disampaikan kultumer.
Oke (serius mode: on), sekarang aku mau cerita tentang isi kultum tadi malam. Temanya tentang semangat berinfak. Kultumer mengisahkan tentang pengalamannya ketika berada di Saudi tepatnya di Masjidil Haram kira-kira dua pekan yang lalu. Saat itu beliau berbincang dengan beberapa orang yang salah satunya mengetahui seluk beluk perluasan Masjidil Haram sebelah Utara. Rencananya tempat untuk Sa’i antara Shafa dan Marwah akan diperluas yang sebelumnya berkapasitas 40.000 jama’ah per menit akan ditambah menjadi 100.000 jama’ah per menit. Otomatis akan memakan area lahan di sekitarnya hingga 30 hektar. Daerah sekitar Masjidil Haram berdiri hotel-hotel yang akan diratakan untuk keperluan perluasan tersebut. Ganti rugi yang disediakan oleh pemerintah Saudi untuk pengosongan lahan mencapai 350.000 real per meter persegi, kalau dikonversikan ke rupiah dengan asumsi 1 real = 2.500 rupiah, maka menjadi Rp. 875.000.000,- per meter persegi.
.

Namun, kebanyakan dari pemilik hotel tersebut malah mewakafkan tanahnya untuk keperluan perluasan Masjidil Haram. Mereka mengerti bahwa ganjaran yang Allah Ta’ala persembahkan bagi hambaNya yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah jauh melebihi uang sebesar milyaran rupiah tersebut. Harta yang mereka infakkan bukanlah harta yang sebagian kecil saja, tapi sebagian besar. Apabila mereka mengambil satu atau dua meter persegi saja sudah bisa membeli mobil mewah atau bersenang-senang dengan kenikmatan dunia lainnya. Tapi mereka memilih menginfakkannya. Dan yang menarik, kontraktor yang akan mengerjakan proyek besar tersebut hanya dibayar 1 real saja (2.500 rupiah). Mereka inginnya tidak dibayar sama sekali, namun dalam perjanjian tertulis tidak memungkinkan menuliskan bayaran ‘gratis’ di dalam kontrak kerja. Mereka akan bekerja selama 24 jam penuh dengan masa istirahat hanya untuk ibadah shalat saja dan bekerja selama berbulan-bulan. Subhanallah, semangat sekali mereka menginfakkan, bekerja dan berjuang di jalan Allah…
Ada pula kisah seorang ulama salaf yang tiap harinya makan dengan sepotong roti. Ketika makan beliau selalu menyisakan satu gigitan. Itu dilakukan tiap harinya sampai hari keenam. Pas hari keenam, beliau makan dari hasil pengumpulan gigitan roti dari hari pertama hingga hari keenam dan memberikan sepotong roti jatahnya yang masih utuh tersebut kepada fakir miskin dan orang yang membutuhkan.
Sungguh potret semangat berinfak yang sangat patut kita renungkan dan kita teladani. Lalu bagaimana dengan kita?

September 19th, 2008 at 11:16 am
Waaaa…mari ber-infak!!!
Tp utamakan zakat dulu, yang wajib gitu lho…
Reply:
yuk mari,,, btw yang dah kerja dapet gaji banyak dah zakat belum nih?